antond.net

0 %
Anton Darmawanto
Front-end Developer
Ui/UX Designer
  • Residence:
    Indonesia
  • City:
    Jakarta Selatan
  • Age:
    40
Indonesian
English
Jawa
html
CSS
Js
PHP
WordPress
Proxmox
Laravel
Linux server (ubuntu, debian, fedora)
Alibaba Cloud
  • Proxmox, Vm Ware
  • Stylus, Sass, Less
  • Gulp, Webpack, Grunt
  • GIT knowledge
0

No products in the cart.

Return To Shop

6 Langkah Menyusun Struktur Heading H1–H6 yang Benar untuk SEO

02/11/2026

Pernahkah Anda membuka sebuah artikel, lalu langsung menutupnya karena isinya tampak seperti satu tembok teks yang panjang dan membingungkan? Sering kali masalahnya bukan pada isinya, melainkan pada strukturnya. Artikel tanpa pembagian bab yang jelas membuat pembaca malas melanjutkan, dan mesin pencari kesulitan memahami topik yang dibahas.

Di sinilah peran heading, yaitu judul-judul kecil di dalam artikel yang ditandai dengan kode H1 sampai H6. Heading bukan sekadar teks yang dibuat lebih besar dan tebal, melainkan kerangka artikel. Ibarat daftar isi sebuah buku, heading memberi tahu pembaca dan Google tentang susunan pembahasan, dari topik utama sampai ke detail terkecil. Bagi pemilik website UMKM, merapikan heading adalah perbaikan SEO yang murah dan cepat, tanpa plugin baru atau biaya tambahan.

Artikel ini membahas enam langkah praktis menyusun struktur heading yang benar, lengkap dengan contoh sebelum dan sesudah perbaikan untuk artikel UMKM. Anda tidak perlu paham coding, cukup memahami logikanya lalu menerapkannya di editor WordPress.

1. Mulai dengan Satu H1 yang Menyebut Topik Utama

Aturan pertama dan paling penting adalah: satu halaman cukup punya satu H1. H1 adalah judul utama halaman, yaitu topik besar yang dibahas. Di WordPress, judul artikel yang Anda ketik di kolom judul biasanya sudah otomatis menjadi H1, sehingga Anda tidak perlu menambahkan H1 lagi di dalam isi artikel.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menambahkan beberapa H1 di tengah artikel karena tampilannya besar dan menarik. Padahal, H1 yang banyak justru membingungkan: pembaca dan mesin pencari sulit menentukan mana topik utama halaman tersebut. Jika ingin teks terlihat besar, ubah ukurannya lewat pengaturan tema, bukan dengan mengubahnya menjadi H1.

Buatlah H1 yang spesifik. Contoh yang baik untuk toko kue adalah “Cara Merawat Kue Kering Agar Tahan Lama”, bukan sekadar “Produk Kami” atau “Selamat Datang”. Judul yang spesifik langsung memberi tahu pengunjung apa yang akan mereka dapatkan.

2. Jadikan H2 sebagai Bab-Bab Utama Artikel

Setelah H1, level berikutnya adalah H2. Anggap H2 sebagai bab-bab utama dalam artikel Anda. Setiap H2 membahas satu subtopik besar yang masih merupakan bagian dari topik utama di H1. Jika artikel Anda membahas cara merawat kue kering, bab-babnya bisa berupa jenis kemasan, cara penyimpanan, dan tanda kue sudah tidak layak makan.

Uji sederhananya: baca semua heading saja, tanpa isi paragrafnya. Jika rangkaian heading itu sudah membentuk ringkasan yang masuk akal, strukturnya sudah bagus. Sebaliknya, heading seperti “Pendahuluan”, “Lainnya”, atau “Info” tidak memberi gambaran apa pun kepada pembaca.

Contoh susunan H2 untuk artikel UMKM

Bayangkan Anda menulis artikel berjudul “Cara Memilih Kopi Bubuk untuk Usaha Warung Kopi”. Susunan H2-nya bisa seperti ini:

  • Pahami dulu jenis biji kopi yang dijual di pasaran
  • Sesuaikan tingkat sangrai dengan selera pelanggan Anda
  • Hitung takaran dan biaya per gelas sebelum menentukan harga
  • Simpan stok kopi bubuk agar aromanya tidak cepat hilang

3. Gunakan H3 untuk Memecah Bab yang Panjang

Kadang satu bab terasa terlalu panjang dan membahas beberapa hal yang berbeda. Di sinilah H3 berperan. H3 adalah anak dari H2: ia memecah satu bab menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah ditemukan.

Sebagai contoh, di bawah H2 “Simpan stok kopi bubuk agar aromanya tidak cepat hilang”, Anda bisa memakai H3 seperti “Pilih wadah kedap udara” dan “Jauhkan dari sinar matahari dan dapur yang panas”.

Aturan praktisnya: pakai H3 hanya di dalam sebuah H2, dan usahakan ada minimal dua H3 dalam satu bab. Jika hanya ada satu anak bab, lebih baik gabungkan saja ke paragraf bab tersebut. Level H4 sampai H6 jarang dibutuhkan untuk artikel UMKM; simpan untuk dokumen yang sangat panjang seperti panduan teknis.

4. Jangan Melompati Level Heading

Kesalahan klasik berikutnya adalah melompati level, misalnya dari H2 langsung ke H4 karena ukuran huruf H4 di tema Anda terlihat lebih pas. Sekilas tidak ada yang rusak di layar, tetapi strukturnya menjadi tidak berurutan. Bagi pengguna pembaca layar, yang mengandalkan heading untuk berpindah bagian, lompatan ini terasa seperti anak tangga yang hilang.

Ingat prinsipnya: level heading menunjukkan kedudukan, bukan ukuran huruf. Urutan yang benar adalah H1, lalu H2, lalu H3, dan seterusnya. Setelah selesai membahas anak bab H3, Anda boleh kembali ke H2 untuk memulai bab baru. Yang tidak boleh adalah melompat dari H2 ke H4 tanpa melewati H3 terlebih dahulu.

Berikut contoh sebelum dan sesudah perbaikan:

  • Sebelum, salah: H1 “Cara Merawat Sepatu Kulit” — H2 “Membersihkan Sepatu” — H4 “Pilih Sikat yang Lembut” (level H3 dilewati).
  • Sesudah, benar: H1 “Cara Merawat Sepatu Kulit” — H2 “Membersihkan Sepatu” — H3 “Pilih Sikat yang Lembut” — H2 “Menyimpan Sepatu Agar Tidak Jamuran”.

5. Letakkan Kata Kunci Secara Wajar, Bukan Dipaksakan

Heading memang tempat yang baik untuk kata kunci, tetapi hanya jika kata itu memang menggambarkan isi bagiannya. Kata kunci utama sebaiknya muncul secara alami di H1, sedangkan kata kunci pendukung dan istilah yang berkaitan bisa tersebar di beberapa H2 dan H3. Anda tidak perlu memasukkan kata kunci ke semua heading.

Contoh yang dipaksakan adalah mengulang frasa yang sama di setiap heading, misalnya “Kopi bubuk terbaik”, “Kopi bubuk murah”, dan “Kopi bubuk terenak” dalam satu artikel. Susunan seperti itu terasa aneh dibaca manusia dan tidak menambah nilai apa pun. Jauh lebih baik menulis heading yang menjawab pertanyaan pembaca, seperti “Berapa lama kopi bubuk bertahan setelah dibuka?”, karena pertanyaan semacam itu juga mirip dengan kata-kata yang diketik orang di Google.

Cara cepat memeriksa kata kunci di heading

Setelah menulis, baca kembali semua heading dan tanyakan: apakah setiap heading masuk akal jika dibaca sendirian, apakah ada frasa yang diulang tanpa perlu, dan apakah topik terpenting sudah muncul di H2 atau H3, bukan hanya di paragraf. Jika ada heading yang terdengar seperti robot, tulis ulang dengan bahasa percakapan biasa.

6. Uji Struktur Heading Sebelum Menekan Publish

Langkah terakhir adalah pengujian singkat sebelum artikel terbit. Di WordPress, Anda bisa memeriksa struktur heading dengan melihat daftar blok di editor, atau membuka pratinjau artikel dan membaca heading dari atas ke bawah. Perhatikan juga hal-hal yang sering luput berikut ini:

  • Heading kosong: blok heading yang tidak berisi teks, misalnya karena sisa salin-tempel dari dokumen lain. Hapus blok kosong tersebut.
  • Heading ganda dari tema: periksa apakah judul sidebar atau footer ikut tampil sebagai heading yang tidak berhubungan dengan artikel.
  • Judul yang sama di banyak halaman: setiap halaman sebaiknya punya H1 yang unik. Jika semua halaman jasa Anda memakai judul yang sama, Google akan sulit membedakan halaman-halaman tersebut.
  • Tampilan di ponsel: usahakan heading tetap ringkas, cukup satu atau dua baris di layar kecil.

Sebagai contoh akhir, bandingkan dua kerangka berikut. Kerangka yang berantakan: H1 “Tips Usaha”, H2 “Promo”, H2 “Tips”, H3 “Lain-lain” — pembaca tidak tahu usaha apa yang dibahas. Kerangka yang rapi: H1 “Cara Menentukan Harga Jual Keripik Pisang untuk Pemula”, H2 “Hitung modal bahan dan kemasan”, H2 “Tentukan margin yang masih masuk akal”, H3 “Contoh hitungan untuk kemasan 100 gram”, H2 “Uji harga ke pelanggan pertama Anda”. Kerangka kedua langsung menjelaskan isi artikel, bahkan sebelum satu paragraf pun dibaca.

Struktur heading yang baik tidak membuat artikel buruk menjadi bagus dalam semalam, tetapi memastikan artikel yang bagus mudah ditemukan, mudah dibaca, dan mudah dipahami. Mulailah dari artikel berikutnya: satu H1 yang jelas, H2 sebagai bab utama, H3 untuk detailnya, tanpa lompat level, dan kata kunci yang wajar. Dilakukan konsisten, perbaikan kecil ini membuat website UMKM Anda terasa lebih profesional.

Posted in Tips & TrikTags: