antond.net

0 %
Anton Darmawanto
Front-end Developer
Ui/UX Designer
  • Residence:
    Indonesia
  • City:
    Jakarta Selatan
  • Age:
    40
Indonesian
English
Jawa
html
CSS
Js
PHP
WordPress
Proxmox
Laravel
Linux server (ubuntu, debian, fedora)
Alibaba Cloud
  • Proxmox, Vm Ware
  • Stylus, Sass, Less
  • Gulp, Webpack, Grunt
  • GIT knowledge
0

No products in the cart.

Return To Shop

Cara Membuat Script Bash Pertama di Linux: 5 Langkah untuk Pemula

04/11/2026

Bayangkan Anda setiap pagi membuka terminal, lalu mengetik perintah yang sama berulang-ulang: memeriksa ruang kosong di hard disk, menyalin folder penting ke flash disk, atau membersihkan berkas sementara. Pekerjaan itu memang tidak sulit, tetapi lama-lama terasa membosankan dan rawan terlewat. Di sinilah script bash berperan. Script bash adalah sebuah berkas teks yang berisi rangkaian perintah Linux yang dijalankan berurutan secara otomatis. Begitu Anda menulisnya sekali, komputer akan mengerjakan semua perintah itu untuk Anda, kapan pun Anda memintanya.

Bagi pengguna Ubuntu atau distro Linux lainnya, kemampuan ini sangat berguna, termasuk untuk pemilik usaha kecil. Misalnya, pemilik toko daring bisa menjadwalkan pencadangan data katalog setiap malam, atau pengelola warung yang memakai komputer kasir berbasis Linux bisa membersihkan berkas lama secara rutin tanpa harus mengingatnya. Kabar baiknya, Anda tidak perlu menjadi programmer untuk memulai. Lima langkah berikut akan mengantar Anda membuat script bash pertama yang benar-benar berfungsi.

Langkah 1: Menulis Script Pertama Anda

Langkah pertama adalah membuat berkas script dengan editor teks. Anda bisa memakai nano, editor sederhana yang tersedia di hampir semua distro Linux. Buka terminal, lalu ketik perintah berikut untuk membuat berkas baru bernama sapa.sh:

nano sapa.sh

Di dalam editor, tuliskan isi berikut:

#!/bin/bash
echo "Halo, selamat datang di dunia script bash!"

Baris pertama, #!/bin/bash, disebut shebang. Fungsinya memberi tahu sistem bahwa berkas ini harus dijalankan oleh program bash. Baris kedua memakai perintah echo untuk menampilkan teks ke layar. Setelah selesai, simpan berkas di nano dengan menekan Ctrl + O, tekan Enter, lalu keluar dengan Ctrl + X. Selamat, Anda baru saja menulis script pertama Anda. Memang masih sederhana, tetapi semua script besar pun berawal dari langkah sekecil ini.

Langkah 2: Membuat Script Bisa Dijalankan dengan chmod +x

Script yang baru dibuat belum bisa dijalankan begitu saja. Linux mengatur siapa saja yang boleh membaca, mengubah, dan menjalankan sebuah berkas melalui izin akses. Secara bawaan, berkas teks baru hanya boleh dibaca dan diubah, belum boleh dijalankan. Untuk mengubahnya, gunakan perintah chmod +x, yang menambahkan izin eksekusi pada berkas tersebut:

chmod +x sapa.sh

Perintah ini penting karena tanpa izin eksekusi, sistem akan menolak menjalankan script dan menampilkan pesan Permission denied. Jika Anda penasaran dengan izin berkas Anda, jalankan ls -l sapa.sh dan perhatikan huruf x yang kini muncul pada kolom izin. Bagi pemula, cukup ingat satu aturan sederhana: setiap kali membuat script baru, jalankan chmod +x sekali sebelum pertama kali menjalankannya. Anda tidak perlu mengulanginya lagi kecuali membuat berkas baru.

Langkah 3: Menjalankan Script dengan Benar

Sekarang saatnya menjalankan script Anda. Karena berkas berada di folder aktif, Anda perlu menuliskan ./ di depan namanya, seperti ini:

./sapa.sh

Tanda ./ berarti “berkas yang ada di folder ini”. Banyak pemula yang lupa menulisnya, lalu bingung ketika muncul pesan command not found. Itu bukan kesalahan fatal, hanya cara Linux mengatakan bahwa ia tidak menemukan perintah bernama sapa.sh di folder sistem. Cara lain untuk menjalankan script adalah memanggil bash secara langsung, misalnya bash sapa.sh. Cara ini berguna saat Anda sekadar ingin mencoba script tanpa mengubah izinnya. Namun untuk pemakaian sehari-hari, menjalankan dengan ./ setelah chmod +x adalah cara yang paling rapi dan umum dipakai.

Jika script berjalan dan menampilkan kalimat sapaan di layar, berarti ketiga langkah pertama Anda berhasil. Anda sudah melewati bagian tersulit bagi pemula, yaitu memahami alur membuat, memberi izin, dan menjalankan script.

Langkah 4: Menggunakan Variabel agar Script Lebih Fleksibel

Script yang hanya menampilkan teks tetap masih kaku. Agar lebih berguna, Anda bisa memakai variabel, yaitu wadah untuk menyimpan nilai yang dapat dipakai ulang. Misalnya, Anda ingin script menyapa siapa pun yang menjalankannya, bukan hanya satu nama. Tulis script baru bernama sapa-nama.sh seperti ini:

#!/bin/bash
nama="Budi"
echo "Halo, $nama! Semoga harimu menyenangkan."

Perhatikan tiga aturan penting dalam penulisan variabel bash. Pertama, tidak boleh ada spasi di sekitar tanda sama dengan, jadi tulis nama="Budi", bukan nama = "Budi". Kedua, untuk memakai nilai variabel, tambahkan tanda dolar di depannya, seperti $nama. Ketiga, jika nilainya mengandung spasi, apit dengan tanda petik. Variabel juga bisa diisi dari perintah lain, misalnya tanggal=$(date +%Y-%m-%d) untuk menyimpan tanggal hari ini. Dengan variabel, satu script yang sama bisa menghasilkan keluaran berbeda-beda tergantung datanya, dan inilah kunci menuju otomatisasi yang sesungguhnya.

Langkah 5: Contoh Praktis: Script Backup Otomatis untuk Usaha Anda

Sekarang gabungkan semua yang sudah dipelajari ke dalam contoh nyata yang bermanfaat, yaitu script pencadangan folder dokumen. Bayangkan Anda pemilik usaha kecil yang menyimpan nota, katalog produk, dan laporan penjualan di folder Dokumen. Script berikut akan menyalin folder itu ke folder cadangan dengan nama yang menyertakan tanggal, sehingga setiap cadangan tidak saling menimpa:

#!/bin/bash
sumber="$HOME/Dokumen"
tujuan="$HOME/Cadangan"
tanggal=$(date +%Y-%m-%d)
mkdir -p "$tujuan"
cp -r "$sumber" "$tujuan/cadangan-$tanggal"
echo "Cadangan selesai dibuat di $tujuan/cadangan-$tanggal"

Simpan sebagai backup.sh, beri izin dengan chmod +x backup.sh, lalu jalankan dengan ./backup.sh. Perintah mkdir -p memastikan folder cadangan tersedia, sedangkan cp -r menyalin seluruh isi folder beserta subfoldernya. Setelah yakin script berjalan baik, Anda bisa melangkah lebih jauh dengan menjadwalkannya lewat cron, penjadwal tugas bawaan Linux, misalnya dengan perintah crontab -e dan baris 0 22 * * * /home/namaanda/backup.sh agar cadangan berjalan otomatis setiap pukul 22.00. Dengan begitu, data usaha Anda terlindungi tanpa perlu diingat setiap hari.

Tips Tambahan dan Mengatasi Masalah Umum

Saat belajar, beberapa kendala kecil hampir pasti muncul, dan semuanya mudah diatasi. Jika muncul pesan Permission denied, periksa apakah Anda sudah menjalankan chmod +x. Jika muncul command not found, pastikan Anda menulis ./ di depan nama script atau berada di folder yang benar. Jika script menampilkan keluaran kosong atau aneh, periksa kembali penulisan variabel: spasi di sekitar tanda sama dengan adalah penyebab paling sering. Untuk melacak kesalahan, jalankan script dalam mode pelacak dengan perintah bash -x namascript.sh, yang akan menampilkan setiap perintah sebelum dijalankan. Terakhir, biasakan menambahkan komentar dengan tanda # di dalam script, misalnya # Menyalin folder dokumen ke cadangan, agar Anda sendiri masih memahami maksud script itu beberapa bulan kemudian.

Kesimpulan

Membuat script bash pertama ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Anda hanya perlu menulis perintah di berkas teks, memberi izin eksekusi dengan chmod +x, menjalankannya, lalu memakai variabel agar script lebih fleksibel. Dari fondasi sederhana ini, Anda sudah bisa membuat alat praktis seperti script backup otomatis yang benar-benar membantu pekerjaan sehari-hari. Mulailah dari tugas kecil yang sering Anda ulang, uji script sampai berjalan lancar, dan kembangkan sedikit demi sedikit. Semakin sering berlatih, semakin terasa bahwa terminal Linux bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan asisten pribadi yang siap bekerja untuk Anda.

Posted in Tips & TrikTags: