Cara Riset Keyword Gratis dengan Ahrefs untuk Pemula
Riset keyword adalah fondasi SEO: sebelum menulis artikel, kamu perlu tahu kata apa yang sebenarnya diketik orang di Google. Tanpa riset, kamu seperti memanah dalam gelap — artikel bagus tapi tidak ada yang mencari topiknya.
Kabar baiknya, kamu tidak perlu berlangganan tools mahal untuk mulai. Ahrefs — salah satu tools SEO paling terkenal di dunia — menyediakan perangkat gratis yang cukup untuk kebutuhan pemula dan UMKM. Artikel ini membahas cara riset keyword gratis dengan Ahrefs, langkah demi langkah.
1. Kenali Dulu Halaman Free SEO Tools Ahrefs
Buka ahrefs.com/id/free-seo-tools (versi Bahasa Indonesia tersedia). Di halaman ini, Ahrefs mengumpulkan semua perangkat gratisnya dalam satu tempat. Kamu tidak perlu membuat akun atau memasukkan kartu kredit untuk memakai sebagian besar tool-nya.
Untuk riset keyword, ada dua tool utama yang akan kita pakai: Keyword Generator (pembangkit ide kata kunci) dan Keyword Difficulty Checker (pengecek tingkat kesulitan). Keduanya gratis dengan batasan tertentu — misalnya jumlah pencarian per hari — tapi lebih dari cukup untuk riset beberapa artikel per minggu.
Biasakan membaca dalam Bahasa Indonesia dengan memilih versi /id/ seperti link di atas. Tampilannya sama, hanya bahasanya yang lebih mudah dipahami.
Satu hal yang perlu kamu tahu sejak awal: tool gratis Ahrefs punya batasan — misalnya Keyword Generator menampilkan maksimal 100 ide per pencarian dan ada limit harian. Untuk kebutuhan riset beberapa artikel per minggu, batasan ini tidak akan terasa. Kalau suatu hari kebutuhanmu bertambah besar, barulah pertimbangkan versi berbayar.
2. Hasilkan Ide Keyword dengan Keyword Generator
Langkah pertama riset adalah mengumpulkan ide. Buka Keyword Generator, masukkan kata dasar (seed keyword) yang berkaitan dengan bisnismu. Misalnya, kalau kamu jualan kopi, masukkan kata "kopi robusta".
Pilih mesin pencari Google dan negara Indonesia — ini penting agar datanya relevan dengan target pembacamu. Klik tombol generate, dan tool akan menampilkan ratusan ide keyword lengkap dengan perkiraan volume pencarian bulanan.
Dari daftar tersebut, perhatikan tiga kolom: keyword-nya sendiri, volume pencarian, dan difficulty (akan dibahas di langkah berikutnya). Untuk pemula, fokus pada keyword dengan volume 100–5.000 pencarian per bulan. Volume di atas itu biasanya dikuasai website besar yang sulit disaingi.
Contoh: dari seed "kopi robusta", kamu mungkin menemukan "cara menyeduh kopi robusta" (volume 800), "perbedaan robusta dan arabika" (volume 2.400), atau "harga kopi robusta 1kg" (volume 1.100). Ketiganya adalah calon topik artikel yang nyata dicari orang.
Jangan hanya terpaku pada satu seed keyword. Ulangi proses ini dengan 3–5 seed berbeda yang mewakili tiap kategori bisnismu. Toko kopi misalnya bisa memakai seed "kopi robusta", "alat seduh kopi", "franchise kopi", dan "kopi untuk asam lambung". Makin banyak seed, makin kaya petamu tentang apa yang dicari pasar.
3. Cek Tingkat Kesulitan dengan Keyword Difficulty
Tidak semua keyword layak dikejar. Keyword Difficulty (KD) adalah skor 0–100 yang memperkirakan seberapa sulit menembus halaman pertama Google untuk keyword tersebut. Semakin tinggi angkanya, semakin kuat kompetitor yang harus kamu kalahkan.
Buka Keyword Difficulty Checker di halaman free tools yang sama. Masukkan keyword incaranmu satu per satu. Sebagai patokan kasar untuk website baru atau kecil: targetkan keyword dengan KD di bawah 20. Keyword dengan KD 30 ke atas biasanya membutuhkan website yang sudah punya otoritas dan banyak backlink.
Jangan berkecil hati dengan angka KD. Website kecil justru menang dengan strategi "keroyokan": daripada mengejar satu keyword sulit, kejar sepuluh keyword mudah yang total volumenya sama besarnya. Sepuluh artikel yang ranking di keyword mudah menghasilkan trafik lebih stabil daripada satu artikel yang tidak pernah tembus halaman pertama.
Perlu dicatat: skor KD dari tool gratis adalah perkiraan, bukan vonis mati. Website dengan konten yang jauh lebih lengkap dan segar kadang bisa mengalahkan kompetitor dengan KD lebih tinggi. Gunakan KD sebagai filter awal, bukan satu-satunya penentu.
4. Bedakan Short-Tail dan Long-Tail Keyword
Dari hasil riset, kamu akan menemukan dua jenis keyword. Short-tail adalah keyword pendek dan umum seperti "kopi robusta" atau "jasa website". Volumenya besar tapi kompetisinya berat dan maksud pencarinya tidak jelas.
Long-tail adalah keyword panjang dan spesifik seperti "cara menyeduh kopi robusta dengan french press" atau "jasa pembuatan website toko online murah jakarta". Volumenya lebih kecil, tapi kompetisinya ringan dan pengunjungnya lebih siap membeli — karena mereka sudah tahu persis yang dicari.
Untuk website baru, prioritaskan long-tail. Rasio yang sehat: 70% kontenmu menargetkan long-tail keyword, 30% sisanya boleh mencoba short-tail sebagai investasi jangka panjang. Setiap artikel sebaiknya punya satu focus keyword utama (long-tail) plus 3–5 keyword pendukung yang berkaitan.
Contoh penerapan: artikel dengan focus keyword "cara menyeduh kopi robusta dengan french press" bisa menyelipkan keyword pendukung seperti "takaran kopi french press", "suhu air seduh kopi", dan "kopi robusta terbaik untuk french press" di sub-judulnya. Satu artikel, empat peluang ranking.
5. Intip Kompetitor dengan SERP Checker
Sebelum menulis, ada baiknya mengintip siapa saja yang sudah ranking untuk keyword incaranmu. Ahrefs punya SERP Checker gratis yang menampilkan 10 hasil teratas Google untuk keyword tertentu, lengkap dengan perkiraan trafik tiap halaman.
Masukkan keyword incaranmu ke SERP Checker. Perhatikan: apakah yang ranking adalah website besar (Kompas, Tokopedia, Wikipedia)? Kalau ya, keyword itu kemungkinan terlalu sulit untuk sekarang. Tapi kalau yang ranking adalah blog pribadi atau website kecil — itu kabar baik, berarti kamu punya peluang.
Pelajari juga jenis konten yang ranking: apakah semuanya artikel panjang? Video YouTube? Halaman produk? Google sudah memberi petunjuk tentang format yang diinginkannya lewat hasil ini. Kalau 8 dari 10 hasil teratas adalah artikel tutorial langkah-demi-langkah, jangan tulis artikel opini — tulis tutorial juga, tapi lebih lengkap.
Prinsipnya: jangan melawan arus. Google menampilkan format tertentu karena itulah yang diklik dan dibaca pengguna. Tugasmu bukan menciptakan format baru, melainkan membuat versi terbaik dari format yang sudah terbukti disukai.
6. Susun Daftar Keyword Siap Tulis
Riset tanpa dokumentasi akan menguap begitu browser ditutup. Buat spreadsheet sederhana dengan kolom: keyword utama, volume, difficulty, jenis (short/long-tail), dan status (ide / ditulis / terbit).
Dari 100 ide yang dihasilkan Keyword Generator, saring menjadi 10–20 keyword terbaik dengan kriteria: volume minimal 100/bulan, KD di bawah 20, dan relevan dengan bisnismu. Urutkan dari yang termudah (KD terendah) — itulah antrian artikelmu untuk beberapa minggu ke depan.
Setiap kali selesai menulis satu artikel, tandai statusnya dan lanjut ke keyword berikutnya. Dalam dua-tiga bulan, kamu akan punya belasan artikel yang masing-masing menargetkan keyword nyata dengan peluang ranking yang realistis. Itulah cara website kecil tumbuh: bukan dengan satu artikel viral, tapi dengan konsistensi menargetkan keyword yang tepat.
Jadwalkan sesi riset ulang setiap 2–3 bulan. Tren pencarian berubah: keyword yang sepi hari ini bisa ramai menjelang musim tertentu, dan kompetitor baru bisa muncul kapan saja. Daftar keyword adalah dokumen hidup, bukan arsip mati.
Kesimpulan
Riset keyword gratis dengan Ahrefs membutuhkan enam langkah: buka halaman free tools, hasilkan ide dengan Keyword Generator, saring dengan Keyword Difficulty Checker, prioritaskan long-tail keyword, intip kompetitor dengan SERP Checker, dan dokumentasikan semuanya dalam daftar siap tulis.
Semua tool yang dibahas di artikel ini gratis dan tidak butuh kartu kredit. Satu-satunya "biaya" adalah waktumu — sekitar 30 menit riset untuk setiap batch artikel. Tiga puluh menit yang membedakan antara artikel yang dibaca ratusan orang dan artikel yang tidak pernah ditemukan siapa pun.
Mulailah dari satu seed keyword hari ini juga. Buka halaman free tools Ahrefs, masukkan kata yang paling menggambarkan bisnismu, dan lihat sendiri betapa banyak ide topik yang selama ini terlewatkan. Riset keyword bukan pekerjaan sekali jadi — ia adalah kompas yang membuat setiap artikelmu berjalan ke arah yang benar.
Website yang tumbuh bukanlah website dengan artikel terbanyak, melainkan website dengan artikel yang paling tepat sasaran. Dan ketepatan itu dimulai dari riset keyword yang benar.